Jumat, 27 Januari 2012

Sekotong, Bukit Emas Pencabut Nyawa

 
WILAYAH Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat merupakan kawasan yang menurut peta geologi Pulau Lombok terbentuk dari hasil gunung api. Wilayah ini merupakan kawasan perbukitan bebatuan. Secara klimatologis, Sekotong hanya tampak hijau pada musim penghujan, sedangkan apabila telah memasuki musim kemarau, keadaan berubah menjadi kering-kerontang. Sehingga tak heran jika kawasan ini seringkali dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Walaupun demikian, di kawasan kritis dengan ketinggian berkisar 500 hingga 800 meter dari permukaan laut ini memiliki potensi yang luar biasa. Hal yang unik telah terjadi di sekotong. Masyarakat yang pada awalnya bermatapencaharian sebagai nelayan ataupun petani kebun, kini telah banyak berganti profesi menjadi penambang emas.

Hal ini diakibatkan telah ditemukan sumber emas di wilayah perbukitan sekotong. Dalam peta geologi pertambangan, sekotong memiliki potensi kekayaan alam yang menjanjikan seperti emas, tembaga, dan perak. Potensi tambang emas di Sekotong mencapai 1.596 ton dan dapat ditambang selama puluhan tahun. Wilayah sekotong teridnetifikasi memiliki kandungan emas yang memadai, namun tidak dapat dieksploitasi secara resmi karena pemerintah provinsi NTB telah menerbitkan peraturan daerah (perda) nomor 11 tahun 2006 tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW) provinsi NTB. Pasal 38 perda nomor 11 tahun 2006 tersebut membatasi persetujuan penambangan yang diterbitkan para bupati di Pulau Lombok, sehingga warga setempat nekat melakukan aktivitas penambangan secara ilegal dengan cara-cara tradisional.

Sejak tahun 2008, kawasan gemerlap emas, tembaga dan perak ini ramai didatangi oleh para pemburu emas liar yang berjumlah sekitan 3000 orang. Istilah pemburu emas liar sangat tidak disukai sebab menurut para penambang liar tersebut, keberadaan mereka bukanlah liar namun mereka hanya memanfaatkan kekayaan alam yang tidak dikelola negara. Bagi penambang liar tersebut, bekerja menjadi penambang emas di Sekotong sama dengan berkah, tak perlu ijin kerja dan tak perduli ada atau tidaknya identitas. Yang penting bagi mereka adalah kemauan yang tinggi dengan bermodal tekad yang kuat. Peralatan yang dipakai pun sangat sederhana dan tradisional seperti linggis, palu, betel dan karung (sebagai penampung batu-batuan mengandung serbuk emas). Hal ini merupakan salah satu bukti kelalaian pemerintah.

Berbagai macam bentuk musibah yang menelan korban jiwa telah terjadi akibat penemuan sumber emas tersebut. Musibah pertama terjadi pada bulan Agustus 2008 yang menewaskan tiga korban jiwa. Hingga tahun 2010, bukit emas ini telah memakan korban mencapai puluhan jiwa. Eksistensi bukit emas Sekotong memang dilematis. Peran pemerintah setempat menjadi kian alot. Pemerintah daerah cenderung mendiamkan saja apa yang terjadi terhadap wilayahnya. Hingga kondisi perbukitan di Sekotong telah menjadi lubang-lubang layaknya sarang lebah yang tersebar dari perbukitan hingga sisi bawah perbukitan. Tidak hanya penggalian liar yang dilakukan, tetapi penggunaan raksa juga diikutsertakan dalam penambangan emas tersebut. Hingga dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perbukitan Sekotong saja, melainkan juga mengalir menuju pantai yang terletak di sekitar perbukitan. Setelah korban jiwa mencapai puluhan orang dan wilayah perbukitan rusak, barulah kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melarang penambangan di Sekotong. Sungguh sangat ironis, sumber kekayaan alam yang seharusnya menjadi kebanggaan untuk dikelola dan dikembangkan justru disalahgunakan hingga akhirnya berubah menjadi monster pencabut nyawa.

Oleh karena itu agar kasus pengeksploitasian illegal yang menimbulkan berbagai masalah tidak terulang kembali, maka pemerintah sebaiknya melakukan:
1.Melacak dan meneliti Kekayaan dan Potensi Daerah
Indonesia adalah Negara yang sangat beruntung, karena telah dianugerahi kakayaan alam yang melimpah. Berbagai bentuk sumber daya alam dalam jumlah banyak tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan. Sehingga setiap pulau Indonesia memiliki kekayaan dan potensi yang berbeda-beda. Dengan kelebihan tersebut seharusnya Indonesia telah mampu bersaing dengan negara-negara maju. Namun sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya minat Indonesia untuk mengelola dan mengembangkan kelebihan yang dimilikinya sangatlah rendah. Sehingga kekayaan tersebut hanya terperangkap dan menjadi perhiasan bagi perut bumi. Padahal kekayaan tersebut dapat menjadi senjata ampuh bagi Indonesia untuk menguasai perekonomian dunia.

Oleh karena itu, pemerintah sebagai wakil rakyat hendaklah bersikap tegas, peduli dan bertanggung jawab. Terlebih lagi bagi pemerintah daerah yang telah diberikan kekuasaan penuh untuk mengelola kekayaan daerahnya sendiri melalui otonomi daerah yang diberikan. Terutama bagi pemerintah NTB karena seringkali NTB dipandang sebagai provinsi yang terbelakang dan miskin, padahal apabila diteliti lebih lanjut, NTB merupakan daerah yang memiliki kekayaan dan potensi dalam berbagai bidang. Dengan demikian, agar kekayaan alam tersebut tidak menjadi sia-sia dan bahkan menimbulkan dampak negatif seperti yang tercermin dalam kasus Bukit Emas di Sekotong, maka pemerintah sebaiknya membentuk organisasi-organisasi yang bertugas khusus untuk melacak dan meneliti kekayaan dan potensi daerah yang masih sangat banyak namun belum ditemukan atau pun belum dimanfaatkan secara maksimal. Sangat banyak bukti bahwa Indonesia memandang sebelah mata terhadap kekayaan yang dimilikinya hingga seringkali pihak lain bahkan negara lainlah yang terlebih dahulu menemukan dan mengeksploitasinya.

2.Mengelola Kekayaan dan Potensi Daerah
Apabila semua kekayaan dan potensi telah ditemukan, barulah kemudian pemerintah merencanakan matang-matang berbagai langkah yang akan diambil untuk mengelola kekayaan dan potensi tersebut. Sebelum mengambil langkah pasti terlebih dahulu pemerintah harus memperhitungkan segala kemungkinan yang akan terjadi berupa dampak negatif yang akan ditimbulkan dan dampak positif yang akan diperoleh dari pengolahan sumber daya alam. Dengan demikian, pemerintah akan mendapat gambaran perubahan yang akan terjadi atas pengelolaan SDA tersebut, sehingga pemerintah juga dapat membuat perencanaan untuk mengatasi dampak negatif dan merencanakan pengalokasian keuntungan yang akan didapat.

Dalam hal ini, pemerintah harus bersikap jantan dalam memilih kepengurusan yang akan menangani masalah pengelolaann SDA tersebut agar tidak terjadi kecurangan yang dapat merugikan berbagai pihak. Agar kedua solusi di atas dapat terwujud, maka diperlukan peran dari:

A.Pemerintah

Tentu yang bertanggung jawab untuk menangani pengelolaan SDA adalah pemerintah. Pemerintah dituntut untuk mengkoordinasi, membuat kebijakan dan mengawasi pelaksanaannya. Oleh sebab itu, pemerintah harus bersikap tegas, peduli dan bertanggung jawab. Tegas dalam hal mengambil keputusan yang didasarkan akan kepentingan bersama. Peduli pada rakyat dan peduli pada lingkungan sebagai wujud pengabdian pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Dan mempertanggungjawabkan kekuasaanya karena dibalik hak yang didapat pemerintah memiliki kewajiban untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan negara.

B.Masyarakat
Peran masyarakat juga tidak kalah penting dalam membangun negeri. Dalam hal ini, masyarakat seharusnya mempunyai rasa memiliki bersama yang besar. Sikap mementingkan diri sendiri masyarakat harus dimusnahkan. Kasus bukit emas di Sekotong merupakan salah satu contoh pencerminan bentuk egoisme masyarakat. Dinilah peran budaya dan tradisi sangat diperlukan untuk meningkatkan kebersamaan masyarakat. Karena budaya dan tradisi bersifat kental dan biasanya dilaksanakan oleh masyarakat secara bersama-sama.

Adapun bahan-bahan yang dibutuhkan untuk merealisasikan hal tersebut di atas adalah:
1.Sumber Daya Alam (SDA)
Sumber daya alam telah tersedia melimpah di alam Indonesia. Tugas rakyat Indonesia adalah bagaimana cara memanfaatkan SDA tersebut secara optimal untuk kepentingan bersama. Masih banyak SDA yang tersembunyi dan belum perrnah disentuh oleh tangan-tangan rakyat Indonesia. Baru-baru ini telah ditemukan oleh masyarakat sumber emas yang tak terduga di daerah Sekotong, penemuan ini menimbulkan berbagai masalah, baik masalah sosial, ekonomi bahkan lingkungann. Hal ini merupakan bukti bahwa pemerintah telah kalah start dengan masyarakat dalam hal pengelolaan SDA, sehingga masyarakat merasa memiliki hak untuk mengeksploitasi sumber emas tersebut. Akhirnya, puluhan nyawa harus dikorbankan akibat keserakahan rakyat dan kelalaian pemerintah.

2.Sumber daya manusia (SDM)
Sudah merupakan hal yang tidak bisa disembunyikan lagi bahwa pada kenyataannya Indonesia adalah negara yang memiliki kualitas SDM yang rendah. Oleh karena itu, wajarlah kalau masyarakat banyak yang menjadi korban dalam kasus bukit emas Sekotong karena pengetahuan mereka tentang pertambangan masih sangat dangkal dan mereka hanya mengandalkan otot-otot kekar mereka disertai peralatan yang masih sangat tradisional.

Sebagai generasi penerus bangsa kita tidak boleh hanya berdiam diri saja menghadapi masalah SDM tersebut, agar SDA kita tidak lagi dikuasai oleh para teknisi luar negeri. Pemerintah dan masyarakat harus saling bersinergi, saling mengisi dan saling bahu-membahu untuk memberantas kebodohan. Program-program pemerintah telah banyak membantu masyarakat untuk tetap beredar pada orbit pendidikan. Namun akan menjadi lebih maksimal apabila pemerintah membentuk lembaga-lembaga untuk memberikan keterampilan kepada masyarakat, terutama keterampilan mengolah SDA. Masyarakat yang tergabung dalam lembaga tersebut akan dilatih dan disiapkan untuk bekerja mengolah SDA. Nantinya, tangan-tangan masyarakatt itulah yang akan berbaur dengan SDA Indonesia. Hal ini akan lebih efektif dibandingkan menggunakan teknisi luar negeri.(*)

Ditulis Oleh : LPPL Matarm // 00.07
Kategori:

13 komentar:

  1. kiranya perlu juga pelestariannya ya bos, tidak hanya mengeruk kekayaan alamnya :)

    BalasHapus
  2. baru 'ngeh' sya kalo ini blognya bung irfan juga ya....
    mantabs sob...mari kita mencintai lingkungan utk anak cucu kita nantinya !

    BalasHapus
  3. ijin komentar om.. :)
    nice info nih,,,
    salam persahabatan..

    BalasHapus
  4. yg paling penting tuh kebijakan dari pemerintah, skrng pemerintah kurang memperhatikan hal seperti ini...

    BalasHapus
  5. kaya juga ternyata lombok ntu. . . dri dulu pengen liburan kelombok belom kesampean bang. . ..

    BalasHapus
  6. didaerah saya juga banyak wilayah yang diperkirakan menyimpan emas, hanya saja massa setempat sulit diatur dan pemerintah membiarkan semua itu digarap secara ilegal. Padahal potensinya besar, apalagi tambang rentan dengan maut jika menggunakan sistem tradisi

    BalasHapus
  7. pemerintah memang suka memandang sebelah mata dengan hal-hal yang dianggap mereka kurang penting. mungkin mereka anggap lebih penting membicarakan bagaimana meraih dan mempertahankan kedudukan agar tidak bergeser dan akhirnya sakit mendadak. fenomena negara kita yang sudah terjadi sekian lamanya

    BalasHapus
  8. Ini kampung tercinta saya... :(
    Dulu sebelum ada indikasi emas dan tambangnya sekotong dianaktirikan oleh pemerintah...
    Setelah Sekotong memperlihatkan kekayaan alam yg begitu melimpah dan menjanjikan, barulah PEMERINTAH campur tangan dan peduli rakyatnya...

    BalasHapus
  9. Kmarin smpat diadakan sosialisasi pengolahan emas dgn bahan yg ramah lingkungan, narasumbernya brasal dri bberapa negara(New Zealand, Ghana, Filipina, dll)..
    Klw saya cermati cukup mnarik jg, cuman hrs melalui bbrapa tahapan.
    Kebiasaan yg sdh ada msh dianggap cukup praktis tpi dampak negatifnya cukup tinggi.

    BalasHapus
  10. eumur2 blom pernah nich sob mengunjungin tempat tambang hehehehehehe..... gimana ya suasana di sana......

    BalasHapus
  11. Waduh ternyata di sekotong ada bukit emas pencbut nyawa, bagaimana pula tw gan..

    BalasHapus
  12. tanksk untuk infonya,salam kenal."karbon aktif"

    BalasHapus

 
LPPL. Diberdayakan oleh Blogger.